song

https://soundcloud.com/the-world-red-army/glory-glory-man-united

Rabu, 20 Mei 2015

Drrrtttt....

Drrrt… drrrtttt… dering telephone itu membuyarkan lamunanku.

“ Hallo… “ jawabku

Namun di seberang sana yang ku dengar hanya suara lirih. Rintikan air hujan yang mulai berjatuhan membasahi bumi, membuat suara itu semakin hilang di terpa hujan. Dan akhirnya hanya terdengar suara tut…tut…tut…

“ ahh biarlah, paling-paling hanya orang iseng aja “ ucapku meremehkan.

Aku mulai berjalan menyusuri trotoar kota, hingga akhirnya sebuah café di ujung jalan menarik perhatianku. Sebuah lukisan seorang wanita yang ada di dalam café itu dan terlihat dari luar kaca jendela café. Aku terpesona, jatuh cinta pada pandangan pertama, dan penasaran akan lukisan itu. Akhirnya kuputuskan untuk memasuki café. Sepi, sunyi, tak ada seorang pun di dalam. Bahkan bar tidak ada satupun yang menjaga.

“ Permisi…” teriakku, namun tetap tak ada sepatah katapun yang menjawab sapaanku. Sejenak setelah mencari-cari seseorang yang ada di café, mataku tertuju lagi pada lukisan itu. Kudekati lukisan itu dan ku liat dalam-dalam, air mataku menetes sejadi-jadinya, ntah apa yang ada dalam lukisan itu, yang pasti lukisan itu telah membuatku benar-benar menyesali hidupku. Seperti hipnotis rasanya, namun itu hanya sebuah lukisan, yaaa HANYA lukisan.

Setelah kutenangkan diriku, ku lanjutkan perjalananku menusuri kota yang sudah basah karna air hujan ini. Namun saat ku baru melangkahkan kakiku, Bruakk. Kecelakaan terjadi tepat di depan café. darah… ya aku paling ngga bisa melihat darah, dan setelahnya aku gatau apa yang terjadi.

Aku membuka mataku perlahan, buram rasanya, aku ngga bisa melihat dengan jelas. Kulihat sekeliling, ku jelajahi semua benda yang ada di sekitarku, hingga akhirnya mataku tertuju pada selang infuse yang menempel pada tangan kiriku. Hal itu membuatku sadar bahwa aku sekarang lagi terbaring di rumah sakit. Tak ada seorangpun yang menemaniku disini, mungkin inila nasib seorang perantau. Ku melamun sejenak, lagi-lagi rasa bersalah itu memenuhi pikiranku. Dan ntah apa yang terjadi, suara bergemuruh terdengar telingaku, “ pulanglah…pulanglah… sebelum kamu semakin menyesal. Pulanglah…pulanglah…”

Setelah mendengar suara itu, mendadak sakit telinga ini, sakit sesakit-sakitnya, aku ngga kuat menahannya, hingga akhirnya hanya ruang gelap yang ku lihat. Dini…dini…dini… suara itu terdengar tepat di belakangku, namun ketika ku berusaha meraih seseorang yang memanggil ku itu, seseorang itu semakin menjauh jauh dan jauh. Aku lelah, aku ngga bisa bertahan lagi, aku terjatuh dan akhirnya merebahkan diri di tanah yang sangat luar biasa panasnya. Tak seorangpun yang ada di sini. Tak ada air, tak ada cahaya, seperti sebuah malapetaka. Oh Tuhan… apa salahku.

to be continue...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar