Drrrt… drrrtttt…
dering telephone itu membuyarkan lamunanku.
“ Hallo… “
jawabku
Namun di
seberang sana yang ku dengar hanya suara lirih. Rintikan air hujan yang mulai
berjatuhan membasahi bumi, membuat suara itu semakin hilang di terpa hujan. Dan
akhirnya hanya terdengar suara tut…tut…tut…
“ ahh biarlah,
paling-paling hanya orang iseng aja “ ucapku meremehkan.
Aku mulai
berjalan menyusuri trotoar kota, hingga akhirnya sebuah café di ujung jalan
menarik perhatianku. Sebuah lukisan seorang wanita yang ada di dalam café itu
dan terlihat dari luar kaca jendela café. Aku terpesona, jatuh cinta pada
pandangan pertama, dan penasaran akan lukisan itu. Akhirnya kuputuskan untuk
memasuki café. Sepi, sunyi, tak ada seorang pun di dalam. Bahkan bar tidak ada
satupun yang menjaga.
“ Permisi…”
teriakku, namun tetap tak ada sepatah katapun yang menjawab sapaanku. Sejenak
setelah mencari-cari seseorang yang ada di café, mataku tertuju lagi pada
lukisan itu. Kudekati lukisan itu dan ku liat dalam-dalam, air mataku menetes
sejadi-jadinya, ntah apa yang ada dalam lukisan itu, yang pasti lukisan itu
telah membuatku benar-benar menyesali hidupku. Seperti hipnotis rasanya, namun
itu hanya sebuah lukisan, yaaa HANYA lukisan.
Setelah
kutenangkan diriku, ku lanjutkan perjalananku menusuri kota yang sudah basah
karna air hujan ini. Namun saat ku baru melangkahkan kakiku, Bruakk. Kecelakaan
terjadi tepat di depan café. darah… ya aku paling ngga bisa melihat darah, dan
setelahnya aku gatau apa yang terjadi.
Aku membuka
mataku perlahan, buram rasanya, aku ngga bisa melihat dengan jelas. Kulihat
sekeliling, ku jelajahi semua benda yang ada di sekitarku, hingga akhirnya
mataku tertuju pada selang infuse yang menempel pada tangan kiriku. Hal itu
membuatku sadar bahwa aku sekarang lagi terbaring di rumah sakit. Tak ada
seorangpun yang menemaniku disini, mungkin inila nasib seorang perantau. Ku
melamun sejenak, lagi-lagi rasa bersalah itu memenuhi pikiranku. Dan ntah apa
yang terjadi, suara bergemuruh terdengar telingaku, “ pulanglah…pulanglah… sebelum
kamu semakin menyesal. Pulanglah…pulanglah…”
Setelah
mendengar suara itu, mendadak sakit telinga ini, sakit sesakit-sakitnya, aku
ngga kuat menahannya, hingga akhirnya hanya ruang gelap yang ku lihat.
Dini…dini…dini… suara itu terdengar tepat di belakangku, namun ketika ku
berusaha meraih seseorang yang memanggil ku itu, seseorang itu semakin menjauh
jauh dan jauh. Aku lelah, aku ngga bisa bertahan lagi, aku terjatuh dan
akhirnya merebahkan diri di tanah yang sangat luar biasa panasnya. Tak seorangpun
yang ada di sini. Tak ada air, tak ada cahaya, seperti sebuah malapetaka. Oh
Tuhan… apa salahku.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar